IN PEACE MUROBBINA : Prof. Dr (HC) KH. Syukron Ma’mun bin KH Ma’mun Nawawi

Pada Ahad, 18 Oktober 2026, Murobbina KH. Syukron Ma’mun wafat di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Jenazah beliau disalatkan ba’da Dzuhur dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan yang selama ini menjadi tempat beliau mengabdikan diri dalam pendidikan dan dakwah Islam. (Sumber: https://jakarta.nu.or.id/obituari/kabar-duka-ulama-sepuh-dan-pengasuh-pesantren-daarul-rahman-jakarta-kh-syukron-ma-mun-wafat-xETPB)

Wafatnya beliau menutup perjalanan hidup seorang ulama yang selama puluhan tahun mengabdikan diri pada dakwah dan pendidikan. Namun, terdapat warisan yang tetap dapat dilanjutkan.

  • Warisan kelembagaan : Pondok Pesantren Daarul Rahman dan jaringan pendidikannya.
  • Warisan keilmuan : Tradisi pengajaran Islam melalui pendidikan pesantren dan pengajian masyarakat.
  • Warisan kaderisasi. : Para santri, alumni, dan pendidik yang memperoleh pembinaan melalui lembaga yang beliau dirikan.
  • Warisan keteladanan : Semangat belajar, keberanian berdakwah, keteguhan prinsip, dan pengabdian kepada masyarakat.

SEPULUH KETELADANAN BESAR DARI KEHIDUPAN BELIAU

Dari keseluruhan perjalanan hidup Murobbina KH. Syukron Ma’mun, terdapat sepuluh pelajaran yang dapat direnungkan.

  1. Kecintaan kepada ilmu : Jangan pernah berhenti belajar
  2. Kesungguhan sejak muda : Mulailah mengabdi sejak memiliki kemampuan.
  3. Keberanian berdakwah : Sampaikan kebenaran dengan ilmu dan hikmah.
  4. Keteguhan prinsip : Jangan mudah. mengorbankan nilai demi kepentingan sesaat.
  5. Penghormatan kepada guru : Jaga adab dan kesinambungan tradisi keilmuan.
  6. Kepedulian terhadap pendidikan : Bangun generasi, bukan hanya kegiatan
  7. Kemandirian : Kembangkan lembaga yang memiliki prinsip dan arah yang jelas
  8. Kemampuan komunikasi : Ilmu perlu disampaikan secara jelas dan bertanggung jawab.
  9. Pengabdian sosial : Jadikan ilmu sebagai sarana memberikan manfaat.
  10. Kaderisasi : Persiapkan penerus agar perjuangan tidak berhenti pada satu generasi.

REFLEKSI: ULAMA BOLEH WAFAT, TETAPI PERJUANGAN ILMU HARUS BERLANJUT

Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya: “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

(Sumber Tulisan : KH. Faisal Ali Nurdin alumni tahun 1984, Pimpinan Pesantren Nuru Ilmi)

Susana Ummat Mengantarkan Jenazah Murobbina

BUAH PEMIKIRAN MUROBBINA

Murobbina KH. Syukron Ma’mun juga menyampaikan pemikiran keislamannya melalui karya tulis. Sejumlah buku yang dikaitkan dengan kiprahnya antara lain Risalah Pemantapan ASWAJA (1988), Riba dan Bank (1995), serta Apakah Bid’ah Itu? (2007). Terakhir, ia juga meluncurkan buku Murobbina KH Syukron Ma’mun: Singa Podium Pejuang Umat dan Bangsa (2026) yang ditulis oleh Agus Handoko.

“Kepergianmu meninggalkan duka yang mendalam, tetapi kenangan tentangmu akan selalu hidup dalam hati kami. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosamu, melapangkan kuburmu, menerima seluruh amal ibadahmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya,” (sumber akun @daarulrahman_official)